Bismillahirrahmanirrahim
Dulu waktu SMP kalau nggak salah pernah menulis pengen jadi apa. Fotografer dan psikolog. Sempat juga pengen jadi penulis. Tapi pada intinya, sesuatu yang kusukai masih sama.
Suatu kali di Perpustakaan RS, di sebelah ruang dokter anak, penjaganya berkata, "Mbak ini kayaknya cocoknya jadi dokter anak atau dokter jiwa."
"Wah, kok ngerti Pak. Memang pengennya itu."
Sebenernya aku memang pengen jadi dokter anak, suka anak-anak, waktu stase anak juga suka dan kebetulan nilainya lumayan. Tapi paham potensi diri dan kemampuan otak, pengennya suami aja yang jadi dokter anak, haha.. tapi kan itu kalo dapet suami dokter dan mau jadi dokter anak, kalo enggak ya enggak. Masalah dokter jiwa, atau Sp.KJ ini memang karena kesukaanku ngulik-ulik isi hati orang kali. Kalau nemu pasien psikosomatis hawanya penasaran juga. Kalau liat orang sukanya nebak-nebak.
Nggak banyak yang akan setuju kalau kamu bilang pengen jadi psikiater. Bisa dibilang itu lahan kering ya? Bener nggak istilahnya? Nggak banyak menghasilkan uang. Meski emang sampai sekarang tujuanku bukan materi semata. Aku pengen cari PPDS yang nggak ngoyo, sebagai seorang yang nantinya pengen jadi ibu yang baik.
Meski begitu, keinginanku yang pengen kayak Prof. Dr. dr. Dadang Hawari, SP.KJ yang punya Madani Foundation. Sebelum tahu beliau dan foundationnya itu, keinginanku persis juga begitu. Karena banyak nemuin pasien dengan kualitas hidup buruk padahal sebenarnya itu cuma masalah hati saja. Well, jadi apapun nantinya aku semoga bisa bermanfaat. Syukur-syukur keinginanku yang punya klinik kesehatan jiwa dan membuka mata orang kalau seseorang dengan kondisi jiwa labil tidak sama dengan orang gila.
Showing posts with label jiwa. Show all posts
Showing posts with label jiwa. Show all posts
Wednesday, October 16, 2013
Saturday, December 3, 2011
Jiwa, finished
Aduh, maap banget jarang cerita hehe... seminggu ini juga jarang ngenet, paling microblogging, karena minggu ujian. Dan hari ini akhirnya. Minggu depan libur dulu seminggu. Pyuf... And here we are.. on poli jiwa :D

::jiwa finished::
Tuesday, November 22, 2011
Pasien-pasien
Bismillahirrahmanirrahim...
Ini pasienku, pasien presusku juga.
Mengaku sebagai Pensiunan Jendral PBB, lain waktu mengaku sebagai dokter, usianya 70 tahun kadang 100 tahun *padahal 25 tahun* Dan punya istri 50 orang, sedang hamil, salah satunya adalah dokter jiwa yang sedang merawatnya *hoohoho* Bipolar I Episode Kini Manik.
Ada lagi pasien Depresi Berat dg Ciri Psikotik Serasi Afek. Setelah dulu saat bekerja suka *mengutil* ditambah penyakitnya yang tak kunjung sembuh, ia makin merasa berdosa, bersalah, putus asa, tak berguna. Menangis, mendengar suara hatinya berkata, dan ingin bunuh diri.
Masih banyak sih, lanjut besok ah~
Jaga Pertama di RSJ
Bismillahirrahmanirrahim...
Aku jadi heran sendiri kenapa di stase ini aku malah nggak banyak cerita. Apa yaa?
Di minggu kedua kemarin, kami pindah RS, stase luar lah istilah kerennya. Hanya 1/2 jam perjalanan sampe, ke bangsal Sakura di RSUD Bms, khusus untuk bangsal jiwa. Sudah tahu kalau di sana bakal menemukan hal yang berbeda dengan di RSMS. Di RSMS cenderung pasien-pasien yang terawat, kalaupun harus ke bangsal, mereka pasien psikotik yang tidak separah pasien di RSUD Bms ini.
Aku tahu persis, kondisi pasien psikotik. Apalagi yang sudah tidak bisa mengontrol diri-sendiri. Kencing sembarangan. Aku tahu. Dan di sana, begitu masuk ke balik jeruji, akan ada orang-orang yang bercampur dengan orang normal, hampir tidak dikenali secara sekilas. Mereka beruntung, masih ditunggui. Di bagian paling belakang ada jeruji2 yang dibaliknya berkumpul sekumpulan orang dengan gangguan jiwa tak berpenunggu.
Jaga pertama, sore itu Ibu S sedang merangsek keluar pintu depan, minta pulang. Perawat mengejar-ngejar, Ibu S bergulingan di lantai. Aku bantu berdiri, dan perawat laki-laki tinggi besar mengawalnya kembali ke kamar. Setelah itu malah Ibu S menarikku pelan, mengajak bicara dengan gayanya yang logorrhea. Menembang, menyanyikan shalawat. Aku hanya senyam-senyum sendiri di depannya, setelah mengorek-ngorek perasaannya saat itu.
Temanku beda lagi. Ia benar-benar dikejar oleh pasien follow up-anku yang mencoba kabur. Kalau aku yang ada di sana, aku akan ketakutan melebihi temanku, karena aku tahu pasien ini post ngamuk di rumah dengan mengacungkan bendo ke bapaknya. Aih... Jangan kau bunuh aku!
Berada di sana, menyenangkan *minus baunya. Mengobrol banyak dengan pasien maupun keluarga *apalagi yang kooperatif* sangat menyenangkan. Menggali-gali perasaan mereka, aku ingin tahu apa yang terjadi.
::jiwa::
Monday, November 14, 2011
Qadha' Itu Sudah Selesai
Bismillahirrahmanirrahim...
Seorang pasien yang terkena penyakit depresi dan guncangan jiwa bertanya kepada dokter ahli penyakit jiwa. Jawaban yang diberikan oleh seorang dokter muslim adalah: "Ketahuilah bahwa alam semesta ini telah selesai diciptakan dan telah selesai diatur, tidak ada sesuatu yang bergerak di dunia ini, kecuali atas izin Allah. Lalu mengapa harus risau dan sedih?"
"Sesungguhnya, Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan atas makhluk-makhluk-Nya lima puluh tahun sebelum mereka diciptakan." (Al-Hadits)
Al-Mutannabi berkata dalam sebuah bait syairnya, Masalah kecil menjadi besar di mata orang yang kecil dan masalah besar menjadi kecil di mata orang besar.
:jiwa:
from La Tahzan
Subscribe to:
Posts (Atom)